Jakarta – Perwakilan Negara dan Penghubung untuk ASEAN UN Women, Ulziisuren Jamsran, menggarisbawahi bagaimana kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI) dapat memperburuk kesenjangan gender jika tidak dikelola dengan baik.

“Meskipun perempuan secara global, termasuk di Indonesia, semakin terhubung dengan internet, hanya 20 persen perempuan di negara berpenghasilan rendah yang memiliki akses online,” jelas Pttogel Ulziisuren dalam sebuah webinar yang disaksikan di Jakarta pada hari Sabtu.

Dia menambahkan bahwa penyalahgunaan AI berpotensi memperkokoh masalah bias sosial yang masih belum terpecahkan. Selain itu, ia mengungkapkan, teknologi pengenalan wajah dan suara sering kali salah mengidentifikasi perempuan.

AI dan teknologi informasi serta komunikasi (ICT) juga dapat berfungsi dalam penyebaran misinformasi dan bahkan meningkatkan kekerasan berbasis gender. “Semua ini mengancam kohesi sosial dan keamanan. Namun, di tengah tantangan ini, AI juga memiliki potensi besar untuk memberdayakan perempuan dan memajukan kesetaraan gender,” tutur Ulziisuren.

Sebagai bagian dari upaya untuk memastikan AI yang lebih inklusif dan etis, UN Women berkomitmen untuk mendorong sistem AI yang sensitif terhadap gender.

Organisasinya terus melakukan penelitian tentang dampak AI terhadap bias gender dan mempelajari cara teknologi ini dapat memberdayakan perempuan, khususnya dalam menjaga perdamaian dan keamanan di kawasan tersebut.

Ulziisuren mengajak semua pihak untuk bekerja sama demi memastikan tata kelola AI yang etis menjadi norma baru. “Ada banyak yang harus kita kerjakan bersama. Kita harus memastikan bahwa AI tidak hanya maju, tetapi juga inklusif, aman, dan dapat dipercaya,” tegasnya.

You May Also Like

More From Author